Pay Pal

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Tuesday, December 28, 2010

Anak -ku Sazali kerahmatullah.

Kerana menghidapi barah paru paru
KUALA LUMPUR: Artis veteran yang terkenal dengan watak Sazali ketika kecil dalam filem Anakku Sazali, Tony Castello, 60-an, meninggal dunia di Hospital Changi, Singapura, selepas waktu Zuhur, semalam, kerana menghidap barah paru-paru.

Menurut sahabat karib Allahyarham, Salleh Sam, 45, dia menghidap penyakit itu sejak beberapa tahun lalu dan jenazahnya akan dikebumikan di tanah perkuburan Islam, di Jurong, pagi esok.
“Jenazah tidak boleh dikebumikan lebih awal kerana terpaksa menunggu kedatangan isteri dan saudara-maranya dari Filipina,” katanya. Tony atau nama Islamnya, Mohd Nor Abdullah berasal dari Filipina. Bagaimanapun dia, ibu bapa, adik-beradik serta isterinya memeluk Islam.

Bagaimanapun, jelas Salleh, dia tidak begitu tahu mengenai keluarga Allahyarham kerana dia sangat berahsia orangnya. “Dia seorang peramah tetapi tidak suka bercakap mengenai keluarganya. Namun, setahu saya dia tinggal di sini bersama anaknya, manakala isterinya menetap di Filipina,” katanya. Sementara itu Datin Rosnani Jamil (Mak Nani), yang pernah berlakon bersama Allahyarham dalam filem Anakku Sazali dan Masyarakat Pincang, berkata ketika dia berlakon dan menetap di Jalan Boon Teck, Singapura, Tony dan seorang lagi pelakon, Rahmat Ali suka datang ke rumahnya.

“Jika tiada kerja, mereka berdua suka melepak di rumah saya dan saya sudah menganggap mereka adik angkat saya. “Pada zaman kegemilangan filem Melayu di Singapura, bapanya peniup trompet terkenal. Dalam filem Ibu yang membabitkan adegan Allahyarham Tan Sri P Ramlee meniup trompet, ia sebenarnya ditiup bapa Tony. “Ibunya pula guru tari di Jalan Ampas. Semua pelakon atau penari yang akan menari dalam filem, belajar menari dengannya. Tony sangat baik dan pernah serta selalu berangan-angan hendak jadi Elvis Presley. “Dia budak pandai. Selain berbakat dalam bidang lakonan dia juga boleh menyanyi dengan baik dan mewarisi kehandalan bapanya bermain trompet. Kali terakhir saya berjumpa Tony ketika dia dan Hashimah Yon datang pada pelancaran buku Pak Jamil (Datuk Jamil Sulung), Ogos lalu di Kuala Lumpur,” katanya.

Tambah Mak Nani, dia dapat tahu berita kematian Allahyarham lewat petang dan tidak sempat untuk melawat Allahyarham. “Pak Jamil tak sihat, jadi saya tidak boleh pergi begitu saja meninggalkannya tanpa jagaan sesiapa. Insya-Allah, apabila saya balik Singapura nanti, saya akan pergi menjenguk pusara dan kaum keluarganya yang masih ada di Singapura. “Walaupun dia saudara baru tetapi kalau diajak bercakap mengenai agama, dia memang bijak dan ilmu pengetahuannya sangat tinggi. Saya doakan semoga rohnya dicucuri rahmat,” katanya. Menerusi keberkesanan lakonan Tony membawakan watak Sazali ketika kecil, dia menang Anugerah Pelakon Kanak-Kanak Terbaik pada Festival Filem Asia Pasifik ke-4, 1957 (Tokyo). Manakala P Ramlee mendapat Anugerah Pelakon Lelaki Terbaik.

Monday, December 6, 2010

FIRAUN MANA ZAMAN NABI MUSA A.S?

Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa (Moses) yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Di kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab, kronologi pengejaran dikisahkan begitu gamblang walaupun terdapat sedikit perberbedaan kisah diatara keduanya. Namun yang pasti, kedua kitab suci tersebut mengisahkan kepada kita mengenai akhir yang menggembirakan bagi Musa beserta Kaum Bani Israel karena dapat meloloskan diri dari kejaran Fir’aun beserta bala tentaranya. Dan bagi sang Fir’aun, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di Laut Merah.

Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir’aun yang memimpin pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak menyebutkan secara mendetail siapakah Fir’aun yang dimaksud.

Fir’aun (Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno. Asal usul istilah Fir’aun sebetulnya merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama – kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno. Banyak Fir’aun yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan penginggalan Piramida Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir – hingga Mesir jatuh dibawah kepemimpinan raja-raja dari Persia.
Mummi Thutmose II (Ramses II)
Sejauh ini telah banyak studi yang dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir’aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Berikut beberapa kandidatnya :

* Ahmose I (1550 SM – 1525 SM)
* Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
* Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
* Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
* Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
* Amenhotep IV (1352 SM – 1336 SM)
* Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
* Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
* Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
* Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
* Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
* Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
* Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)

Dari daftar beberapa Fir’aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.

Sifatnya yang kadang tirani terhadap masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel. Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.

Kemudian menilik ke Raja Merneptah – putra Ramesses II – yang berkuasa setelah Ramesses II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir’aun yang dimaksud mengingat pada masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel telah tiba di tanah Kana’an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa.

Lalu bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ? Bagaimanapun juga, ahli sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400 SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I.

Beberapa Sejarawan yang menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.

Dinasti ke-18 mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM – 1493 SM), Thutmose II (1494 SM – 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir’aun wanita yaitu Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM – 1425 SM).
Benarkan Thutmose II Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah?

Menurut studi yang dilakukan oleh Sejarawan Alan Gardiner, setelah kematian Thutmose I dan masa persinggahannya selama 40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir’aun. Pada saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu Hatshepsut.

Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir’aun yang hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi kemajuan kerajaan. Walaupun bukan merupakan sosok pemimpin yang dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan kandidat terkuat fir’aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel. Hal itu dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan.

Garnier juga menambahakan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda berharga “semewah” pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya, sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja. Selain itu, kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya.

Penelitian terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya, dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar. Apakah cidera di tubuhnya itu akibat hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup kembali? Wallahu ‘alam Bishawab

Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Sang Fir’aun :

Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;” Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ( QS Yunus 90).

Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir’aun mencoba memohon kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya. Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir’aun hanyalah suatu kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari maut.

Setelah sang Fir’aun tewas pada periode pemerintahannya yang tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum akhirnya Thutmose III naik tahta.

Jika benar Thutmose II merupakan Fir’aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya menjadi demikian :

Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa saat hanyut di Sungai Nil.

Kedua, selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Fir’aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal dan digantikan putranya Thutmose II.

Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan?

Pertanyaan diatas memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan bahwa Jasad Fir’aun tidak mungkin berhasil ditemukan apalagi dalam bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala tentaranya.

PERTANYAAN DIRANGKAP TERAKHIR KENAPA MAYAT RAMSES II MASIH ADA. SAYA TELAH TENGOK PAMERAN DIKL DAN DI TERENGGANU TENTANG MAYAT RAMSES II YANG DIBAWA KEMARI SEDIKIT MASA DAHULU.

SETELAH ALLAH TAALA MENENGGELAMKAN FIRAUN DIPERCAYAI RAMSES II. MASIH ADA PENGIKUT NABI MUSA TIDAK PERCAYA FIRAUN TELAH MATI, MAKA NABI MUSA PUN BERDOA KEPADA ALLAH AGAR DITIMBULKAN, MAKA TIMBULLAH MAYATNYA. JADI OLEH ITU TIDAK HAIRANLAH ADA YANG MENGAMBIL DAN MENGAWETKANNYA.
FIRAUN MASA DITENGGELAMKAN DAN HAMPIR LEMAS DI BERKATA KEPADA NABI ALLAH MUSA A.S BAHAWA DIA MENGAKU TUHAN ISA ALLAH TETAPI MALAIKAT MENYUMBAT MULUTNYA DENGAN LUMPUR BEGITULAH BERLAKU BEBERAPA KALI HINGGA LEMAS MATI DALAM KUFUR. WALAHHUAQLAM.

Wednesday, November 17, 2010

Foto SKBT Terkini

Padang sekolah. Bila musim sukan padang yang sama inilah kena buat garisan menggunakan minyak hitam. Kena cabut kemucut selepas perhimpunan, dulu mana ada mesin rumput. Penuh kemucut lekat pada stokeng. Bila musim sport ibu bapa datang beramai-ramai memberi sokongan tidak macam sekarang dah kurang atau tak tahu pun ada sport.

Pintu pagar utama SKBT

Bangunan baru SKBT, semasa saya dulu hanya bangunan kayu. Hanya bilik guru bangunan batu beberapa tahun kemudian dan akhir sekali bangunan kelas kat kantin bermakna hanya dua bangunan batu pada masa itu akhir 1975.

Friday, November 12, 2010

NOSTALGIA DI SKBT

Tepi pintu masuk utama SKBT terkini.

Saya rasa terpanggil untuk membina blog SKBT dan menulis sepatah dua kata untuk tatapan umum mengenai pengalaman di Sekolah Kebangsaan Bukit Tunggal, Kuala Terengganu.

Kelas adik saya Asma binti Abd Razak no.7 dari kiri sebelah cikgu Rafeah.

1970-Saya mulai darjah 1B pada masa itu guru kelas ialah cikgu Mansor, kenderaannya ialah Vespa Lambretta. Oleh kerana kekurangan kelas maka dua kelas diruang kantin sekolah. Cikgu bahasa Inggeris ialah Cikgu Wan Manaf binti Wan Muda yang kini kurang sihat tinggal di Kampung Pasir Panjang.Penjual dikantin pada masa itu ialah Pak Tawang berasal dari Kampung Bukit Tunggal. Tukang sapu sekolah yang saya masih ingat ialah arwah Pak Man dan dan Pak Lah (maaf nama sebenar tidak tahu). Saya dan rakan-rakan yang lain ditempatkan sesi pagi iaitu Sekolah Kebangsaan Bukit Tunggal 1. Bagi sesi petang ialah Sekolah Kebangsaan Bukit Tunggal II dimana lencana adalah berbeza satu sama lain. Lencana yang ada kini adalah lencana baru. Dahulunya warna biru tua tidak banyak warna Cuma api obor berwarna merah. Matematik masa itu dipanggil 'Ilmu Kira-kira', darab dipanggil 'Kali'.

1971-Darjah 2A Guru kelas ialah Puan Syariah binti Yaakub...hooo garangnya. Masih ingat lagi kena hafal 'RUKUN NEGARA'. Buku tulis/latihan pada masa itu ada sifir dan rukun negara dibelakang. Buku kerja Bahasa Malaysia kisah burung gagak dengan takar, anjing dengan bayang-bayang, tiga budak hitam dan lain-lain.

1972-Darjah 3B Guru kelas ialah Muda bin Ismail tinggal di Kampung Gong Kapas. Guru bahasa Inggeris ialah Mohd Abu...garang jugak tu. Uztaznya ialah Zakaria. Darjah tiga 3B dan 3C ditempatkan dibanguan Pejabat Lama yang bertiang di perbuat daripada kayu. Guru kelas 3C ialah cikgu Yong berasal dari Kampung Losong Feri. Bila waktu rehat bawah bangunan itulah tempat bermain mencari cencorut (juga dikenali cikgu atau undur-undur). Guru kumpulan nyanyian untuk malam pasaria sekolah ialah cikgu Tan Kee Chu tapi bila giliran buat persembahan diatas pentas ditengah padang apa lagi saya terus menghilang.....Pada tahun ini pelajaran 'Tata Rakyat' juga diajar kini Sivik.

1973-Darjah 4A3 Guru kelasnya ialah cikgu Mokhtar bin Embong berasal Kampung Batu Buruk (dekat Sek. Men. Bt. Buruk). Cikgu bahasa Inggerisnya ialah cikgu Latif bin Naemat...hhooo garang...selalu kena rotan. Semasa darjah empat ini murid-murid diletakkan berpasangan lelaki dan perempuan dalam kelas agar tidak bising. Pelaran 'Sain' mula diajar dan juga 'Ilmu Alam' lini dipanggil geografi. Sejarah juga diajar tapi pada masa ini dinamakan 'Tawarikh'. Nama kelas diubah dan juga dimansuh SKBT 1 dan SKBT II. Pada tahun ini Muhammad Ali melawan George Foremen di Zaire maka dewan sekolah dibuka dan semua murid-murid serta guru akan menyaksikan perlawan bersejarah dalam sukan tinju. Oleh kerana dewan penuh maka diberi kebebasan untuk kerumah guru berhampiran sekolah untuk menonton siaran secara lansung. Begitulah setiap kali diadakan perlawanan tinju. Aku pergi tengok di rumah Cikgu Latif Naemat, cikgu ini sangat bekeng dia berasal dari Negeri Sembilan selalu jugak kena rotannya.

Dari kiri Zulkafli (aku kini di Kerteh), Mustafa Abu Hassan (lost contact), M Daik Yatim (Pekan -Lost contact) dan M Narakna Hassan (Kini di N. Sembilan). Kemanakah kamu semua wahai sahabatku.

1974-Darjah 5A2 Guru kelas ialah cikgu Zakaria kenderaanya kereta kura (Volksvegen) biru. Peperiksaan penilaian telah dilalui pada tahun ini tapi keputusan hanyalah 3B2C haaaaa. Mengikut blog mengenai SKBT yang satu lagi iaitu pautan,

mereka yang berjaya ke Sekolah Menegah Sains (kini Sek. Men. Sultan Mahmud-Wakaf Tembesu) seramai dua orang itu ialah Khairul Anuar Ibrahim (kini di TLDM, Lumut-telah bersara dan masih menyambung perkhidmatan) dan Sapini bin Kunju (berita dari kawan kini beliau mengajar di Sek. Men Vokasional, Besut). Ketika hari guru saya sukarela ingin menyampaikan lagu Ahmad Jais iaitu lagu bertajuk 'Sibuyung', maka dipraktik didalam kelas kira okay jugak tapi bila hari guru....tembor (lorat Trg) lari balik...berdebar....Tahun ini juga kalau tak silap semua ejaan lama tidak digunakan lagi seperti mengeja CHUACHA kini CUACA, SHARIKAT kini SYARIKAT dan huruf ‘Ĕ’ ‘ĕ’ bertanda tiada lagi tanda diatasnya dan seterusnya. Selain daripada itu ialah penggunaan sistem metrik tiada lagi kiraan dalam 'KAKI, ELA, BATU ditukar kepada 'METER, KILOMETER dan lain-lain.

Duduk dari kiri; Adnan Tawang (Kini bertugas di JKR Trg) dan Dasuki (Kini bertugas di Pej. Agama Trg)

1976-Darjah 6 Orkid Guru kelas, guru besar dan juga guru matematik ialah Tuan Hj Mahmud berasal dari Kampung Banggol Pauh. Guru Bahasa Malaysia ialah cikgu A Rahman bin Che Mat. Akhir tahun diadakan jamuan ucapan selamat perpisahan kerana berakhir sudah belajar disekolah ini dan akan menempuh kesekolah menengah. Diadakan lawatan sambil belajar ke Kilang Memproses Kelapa Sawit, Landas, Jerangau dan Tapak Semaian di Ajil dan balik melalui bandar Dungun dan singgah makan di Teluk Lipat. Ramai kawan-kawan seangkatan semenjak meninggalkan SKBT, terputus silaturahim kerana tiada maklumat atau telah berhijrah.

Nostalgia lain di SKBT ialah selepas perhimpunan semua murid-murid dikehendaki mencabut rumput di padang, mengutip sampah,membuat garisan dengan minyak hitam kotor untuk hari sukan, membawa lipas, bawa kotak mancis dan macam-macam lagi. Bila cikgu nak lipas susah lah mencari dalam gulungan tikar kercut atau payung kertas di rumah. Hari sukan ibubapa berduyun-duyun datang menyaksikan temasya tersebut. Yang seronoknya penjual aiskrim dan kacang kuda rebus mesti ada tapi yang tak seronok tiada duit. Semasa darjah satu saya bawa hanya sepuluh sen sahaja dan paling banyak bila darjah enam adalah mak beri dua puluh sen boleh simpan berjimat. Wallet tak ada jadi masuk dalam poket dan ikat dengan getah atau ikat dalam sapu tangan.

Jika tidak dapat menjawab soalan atau gagal dalam sesuatu mata pelajaran dendanya menjunjung kerusi keliling bangunan, berdiri di atas bangku atau kerusi, rotan adalah perkara biasa malah makin menghormati guru kalau mengadu kepada ibubapa mungkin lebih teruk ditambahnya haaaaa. Berkebun sayur juga diajarkan, tanam lobak, peria, labu dan sebagainya.

Suasana dalam bilik darjah 6 Orkid. Cikgu kelas pada masa ini ialah Cikgu A Rahman Che Mat (bersara - kini masih aktif menulis cerpen dan novel).

Dari barisan depan kiri kekanan dan seterusnya Khairul Anwar Ibrahim, M Yusof Ali, Yakari Sulong, Apandi Sidek, Soberi Wahab, Azam Mohd, ?, Adnan Tawang, Sapini Kunju, Dasuki Awang, Fauzi Abdullah dan M Daik Yatim.

Sebelah kiri berpaling tu aku, ?, Mahari Mohd, Kamaruddin Omar (ustaz K yang selalu ada dlm radio), Mustafa Abu Hassan, Che Saufi Khalid, M Narakna Hassan, Che Kamaruddin, ?, Azmi Ismail, M Adli Malek.

Yang perempuan dari kiri Azipah, Fatimah Embong dan ?

Begitulah sedikit sebanyak yang dapat saya nukilkan dan kepada guru-guru yang pernah mendidik saya dan juga rakan-rakan yang lain jasa mu tidak terbalas semuga amal jariah akan dinilai disisi Allah s.w.t dan mohon maaf di pinta seandainya pernah membuatkan perasaan cikgu marah atau kecewa tanpa disedari. Kepada yang telah pergi saya doakan semuaga rohnya dicucuri dan dilimpahi rahmatNya. Amin.

Foto-foto tersebut diambil oleh cikgu kelas iaitu A Rahman Che Mat atau dikenali A. Rahman CM. Beliau sangat aktif dalam penulisan cerpen didalam akhbar-akhbar seperti Berita Minggu dan Mingguan Malaysia dan novel sehingga kini. Beliau dilahirkan pada 23 Jan 1943 di Kampung Tebauk, Kuala Terengganu. Karya

Foto Guru dan Ustaz akhir 70an bertugas di SKBT

Duduk dari kiri; kerani, ?, ?, Cikgu Wan Manaf, Cikgu A Rahman CM, Ustaz Abdullah, Cikgu Salleh, Guru Besar Cikgu Mahmud, ?, ?, Cikgu Yahya, Cikgu Aziz, ?, Cikgu Rafeah dan Cikgu Hasnah.

Tengah dari kiri; Cikgu Zakaria, ?, Ustaz Yusof, ?,?, Cikgu Ismail M Zain, ?, Cikgu Arshad, ?, ?, ?, Cikgu Mahmud, Cikgu Mansor, Cikgu Hassan? dan Cikgu Yong.

Belakang dari kiri; ?, tukang kebun, Ustaz Abdullah, Tukang kebun, Cikgu Abdullah, Cikgu Muda Ismail, ?, ?, Cikgu Latif, Tukang kebun Ali, ?, ?, tukang kebun, Tukang kebun Pak Lah dan ?.